Masya Allah, Ini 11 Keutamaan Abu Bakr yang tak Dimiliki Shahabat Lain (Bagian 1)




Keutamaan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sangatlah banyak disebut dalam hadits. Poin berikut hanyalah sebagian kecil saja yang didapati dari beliau. Berikut kisah tentang keutamaan Abu Bakr yang disarikan dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang merupakah syarh dari Kitab Shahih Al Bukhari.


  1. Beliau Adalah Sahabat Rasulullah di Gua Dan Ketika Hijrah


Siang malam, Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berjalan menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah. Bukan perkara mudah. Keduanya harus berjalan memutar ke arah selatan dan bersembunyi di Gua Tsur, kemudian berjalan melalui rute yang tak dilalui banyak musafir. Ialah rute yang berkelok-kelok, sepi, tak terjamah manusia. Di belakang mereka, orang-orang kafir berlomba mencari keduanya. Sebab, ada hadiah 100 ekor unta bagi siapa yang menemukan Rasulullah dan Abu Bakr.


Betapa besar rasa khawatir Abu Bakr pada Nabi. Beliau khawatir jika Rasulullah tertangkap orang-orang kafir. Saat di gua, orang kafir melintas, seandainya mereka melihat ke arah bawah, terungkaplah persembunyian nabi dan Abu Bakr. Saat itu, Rasulullah menenangkan Abu Bakr seraya bersabda, “La Tahzan, Innallaha ma’ana. Jangan kau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”


Begitu bermaknanya perjalanan ini sampai Allah mengabadikan dalam Al Qur’an Al Karim, "Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluar-kannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, 'Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”. (QS. At-Taubah: 40)


Biarlah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang menuturkan langsung kisahnya. Diriwayatkan dari al-Barra' bin 'Azib, ia berkata, "Suatu ketika Abu Bakr pernah membeli seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu Bakr berkata kepada 'Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan tersebut." Maka 'Azib berkata, "Tidak, hingga engkau menceritakan kepada kami bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari kalian."


Abu Bakr un berkisah, "Kami berangkat dari Makkah, berjalan sepanjang siang dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya, ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat di situ ada naungannya, maka ku bentangkan tikar untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. kemudian kukatakan padanya, "Istirahat-lah wahai Nabi Allah."


Maka beliau pun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku, apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengintai. Tiba-tiba aku melihat ada seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami, maka aku bertanya padanya, "Siapa tuannmu wahai budak?" Dia menja-wab, "Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy." 


Dia menyebut nama tuannya dan aku mengenalnya, kemudian kutanyakan, "Apakah kambingmu memiliki susu?" Dia menjawab, "Ya!" lantas kukatakan, "Maukah engkau memeras untuk kami?" Dia menjawab, "Ya!" Maka dia mengambil salah satu dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar membersihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya

dari debu.


Maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang telah diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi saw. dan ternyata beliau sudah bangun, segera kukatakan padanya, "Minumlah wahai Rasulullah." 


Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah itu kukatakan padanya,

"Bukankah kita akan segera berjalan kembali ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya!" 


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami, tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin Ju'syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullah, "Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah saw." Namun beliau menjawab, "Jangan khawatir, sesungguhnya Allah beserta kita."


Diriwayatkan dari Anas dari Abu Bakar beliau berkata, "Kukatakan kepada Nabi ketika kami berada dalam gua, 'Andai saja mereka (orang-orang Musyrik) melihat ke bawah kaki mereka pastilah kita akan terlihat.' Rasul menjawab,"Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah menjadi yang ketiga."



  1. Shahabat yang Paling Banyak Ilmunya


Telah berlalu kisah ini pada post sebelumnya. Sebuah kisah yang diriwayatkan seorang shahabat, Abu Said Al -Khudri radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, "Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisi-Nya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di sisi Allah."


Mendengarnya, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menangis. Para shahabat heran, mengapa Abu Bakr menangis. Padahal Nabi hanya menyebut tentang seorang hamba yang memilih kebaikan.


Di kemudian hari, barulah para shahabat mengerti, bahwa Abu Bakr memahami ucapan Nabi sebagai tanda perpisahan. Hamba yang dimaksud Rasulullah bukan lain diri beliau sendiri. Ketika beliau memilih di sisi Allah, artinya, Rasulullah memilih menuju Ar Raffiq Al A’la. Sebagaimana diketahui, para nabi selalu diberi pilihan ketika ajal mereka datang. Apakah akan ditambah umurnya, ataukah meninggal saja. Rasulullah memilih wafat, dan karena itulah Abu Bakr menangis saat mengetahuinya. Hanya Abu Bakr yang mengerti ucapan Nabi, hingga berderaian air mata karena memikirkan jika harus berpisah dengan Rasulillah.


Berikut teks hadits, dari Abu Sa'id Al-Khudri, ia berkata, Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan para shahabat dan berkata, "Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisi-Nya, namun ternyata hamba tersebut memilih apa-apa yang ada di sisi Allah."


Maka Abu Bakr menangis, kami (para shahabat) heran kenapa beliau menangis. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah menceritakan seorang hamba yang memilih kebaikan. Akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut ternyata tidak lain adalah Rasulullah sendiri, dan Abu Bakr lah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami. 


Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dengan ikatan persahabatan dan dukungan hartanya adalah Abu Bakr. Seandainya aku boleh mengangkat seorang Khalil -kekasih terdekat- selain Rabb-ku, niscaya akan aku jadikan Abu Bakr sebagai Khalil-ku. Namun, cukuplah -antara aku dengan Abu Bakar- ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam. Maka tutuplah pintu-pintu di masjid kecuali pintu Abu Bakr."



  1. Shahabat yang Paling Utama


Abdullah bin Umar bin Khattab (Ibnu Umar) radhiyallahu ‘anhuma sering kali mengobrol dengan kawan-kawannya di kalangan shahabat. Mereka menilai siapakah shahabat terbaik, shahabat yang paling utama, di sisi Rasulullah. Maka mereka pun sepakat bahwa Abu Bakr selalu di peringkat pertama.


Ibnu Umar berkata, "Kami selalu membanding-bandingkan para sahabat di masa Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam. Maka kami sepakat memilih Abu Bakr yang paling utama, kemudian Umar, selanjutnya Usman bin Affan.”

Obrolan mereka diketahui Rasulullah. Saat itu pun masih dalam masa turunnya wahyu. Jika Ibnu Umar dan kawan-kawannya berkata salah, pastilah akan mendapat teguran dari nabi. Nyatanya, tak ada teguran dari beliau. Maknanya, Rasulullah membenarkan apa yang mereka diskusikan.


Hal ini senada dengan riwayat dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau adalah putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Namun ibunda beliau bukanlah Fathimah radhiyallahu ‘anha, melainkan Khaulah. Karena itulah ia disebut Al-Hanafiyyah, untuk membedakannya dengan putra-putra Ali yang merupakan keturunan Nabi.


Muhammad bin Al-Hanafiyyah menceritakan, "Kutanyakan pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wasallam" Maka beliau menjawab, "Abu Bakar!" Kemudian kutanyakan lagi, "Siapa setelahnya?" Beliau menjawab, "Umar." Dan aku takut jika dia menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, "Setelah itu pasti anda. Namun beliau menjawab, "Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin."


  1. Istimewanya Kedudukan Beliau di Sisi Rasulullah


Seorang wanita pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian nabi menyuruhnya kembali datang menghadap beliau. Lantas wanita itu bertanya, “Bagaimana jika kelak aku tak menjumpaimu?” Seakan ia mengisyaratkan bagaimana jika Rasulullah telah wafat.

Maka Nabiyullah bersabda, “Jika engkau tak menjumpaiku, maka datangilah Abu Bakr.”


Kisah lain datang dari Abu Darda. Suatu hari, ia tengah duduk bersama nabi. Lalu muncullah Abu Bakr yang menjinjing ujung pakaiannya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya teman kalian sedang kesal, maka berilah salam untuknya.”


Abu Bakr lalu berkata, “Wahai Rasulullah, terjadi perselisihan antara aku dan Ibnul Khaththab (yakni Umar). Aku mendatanginya untuk minta maaf. Namun ia enggan memaafkanku. Karena itulah aku datang menghadapmu sekarang.”


Rasulullah bersabda, “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakr.” Beliau mengatakannya tiga kali. Tak lama kemudian, Umar menyesali perbuatannya karena tidak memaafkan Abu Bakr. Ia pun mendatangi rumah Abu Bakr, namun beliau tak ada disana. Umar pun mendatangi Rasulullah. 


Ketika melihat Umar datang, wajah nabi memerah. Nabi marah pada Umar. Sampai-sampai Abu Bakr merasa kasihan pada Umar. ia duduk diatas kedua lututnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, Demi Allah, sungguh aku lah yang salah.” Diulang ucapan itu dua kali.


Rasulullah lantas bersabda, "Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun kalian mengatakan (kepadaku), "Engkau pendusta!" Sementara Abu Bakar berkata, "Engkau benar " Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera

menyakiti sahabatku?"


Abu Darda berkata bahwa setelah peristiwa itu, Abu Bakr tidak pernah lagi di sakiti.


Cukuplah ucapan Rasulullah menggambarkan betapa istimewanya Abu Bakr di sisi Nabi. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

”Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilih Abu bakar sebagai khalil namun dia adalah saudaraku dan sahabatku."



Wallahu a’lam bishshawab. Artikel ini bersambung ke part berikutnya, insya Allah.


Rujukan:

-Shahih Al-Bukhari

-Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al -Asqalani

-Al-Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir


You Might Also Like

0 comments

Inilah Gambaran Telaga Rasulullah Al Haudh

Kelak, di Hari Kiamat, terdapat telaga milik Rasulullah shallalhu 'alaihi wasallam. Muslimin akan berbondong-bondong ke sana dan disambu...